Batasan Berseni

pengertian-seni-rupa

Berseni merupakan cara seseorang menyampaikan/menuangkan rasa dari dalam hati kedalam bentuk sebuah karya, entah itu dalam bentuk lukisan, puisi, kaligrafi, musik dsb. Sebagai seorang yang dari kecil memiliki ketertarikan akan seni yang begitu tinggi kurang/lebih begitulah Saya mendefinisikan arti dari sebuah Seni. Para seniman berkarya dengan jalurnya (aliran yang Mereka anut) masing-masing, begitu pula dengan definisi arti sebuah seni beserta dengan norma-norma yang Mereka sisipkan didalam karyanya.

Banyak berbagai jenis seniman diluar sana, dari mulai yang idealis, komersil, sampai dengan yang “Freak“. Mereka berkarya tentu menuruti apa yang mereka mau/tuju, mereka menanamkan norma-norma didalam karyanya sehingga “juri” akan memberi “nilai” yang sepantasnya diberikan atas karyanya. Tapi ada juga seniman-seniman tertentu yang berkarya dengan sa’enak udel’e dewe tanpa mengindahkan norma-norma yang berlaku ditengah masyarakat luas, yang notabene adalah “juri” dari karya Mereka.

Dalam perjalanan Saya mengembangkan, mendalami dan mempelajari seni seorang diri, Saya tumbuh menjadi seorang (seniman) yang idealis. Saya sangat jarang menunjukan karya seni yang Saya buat keorang banyak, apalagi ditengah masyarakat luas, paling hanya Saya tunjukan ke orang yang terdekat saja. Dan suatu ketika perjalanan Saya mendalami sebuah arti seni, Saya bertanya-tanya “apa arti seni dalam ajaran Islam?”. Dan pada waktu itu pula Saya juga mulai mendalami (lebih) aqidah ajaran Islam!

Bagaimana pandangan Islam terhadap sebuah seni? Dalam Islam apa itu karya seni? Apakah ada norma-norma yang mengatur seni dalam Islam? Apa hukum seni dalam Islam? Dan Blaa, Blaa, Blaaa..

Walaupun begitu banyak pertanyaan apa pandangan Islam terhadap karya seni, tapi pertanyaan Saya pada waktu itu lebih ke-spesifik terhadap sebuah karya, yaitu karya lukis. Bagaimana hukum karya lukis dalam pandangan Islam? dan satu pertanyaan itu membawa Saya terhadap beberapa pernyataan (Hadist) yang mebuat Saya terkejud, dan tentu saja pernyataan tersebut belum Saya ketahui sebelumnya karena masih sedikitnya pengetahuan Saya terhadap aqidah. Pernyataan (yang jujur) membuat Saya sedikit “hancur”, Saya benar-benar ketakutan, dan subhanallah sampai-sampai membuat bulu kuduk Saya berdiri.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku sementara saya baru saja menutup rumahku dengan tirai yang padanya terdapat gambar-gambar. Tatkala beliau melihatnya, maka wajah beliau berubah (marah) lalu menarik menarik tirai tersebut sampai putus. Lalu beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaanya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupakan mahluk ciptaan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Adapun tentang pelukis, Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ أَنْ يَنْفُخَ فِيْهَا الرُّوْحَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَلَيْسَ بِنَافِخٍ

“Siapa yang membuat sebuah gambar/lukisan (makhluk hidup) di dunia, ia akan dibebani untuk meniupkan ruh kepada gambar tersebut pada hari kiamat, padahal ia tidak bisa meniupkannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Baca penjelasan lebih lengkapnya klik disini

*Na’udzubillahi min dzalik*

Setelah moment itu, Saya ingin mendalami (lebih) soal ajaran aqidah. Dan setelahnya, sedikit demi sedikit pemahaman saya terhadap aqidah alhamdulillah bertambah, terlebih soal batasan berseni. Saya mulai membatasi “ruang” Saya terhadap seni, walaupun belum bisa lepas seutuhnya terhadap seni yang masih melalaikan.

Ketika suatu saat pada zaman Saya masih menimba ilmu diperguruan tinggi, ada pernyataan Dosen yang membuat Saya “tertampar” dan membuat beberapa teman Saya bertanya-tanya!

Ketika itu masih pada jam kuliah dan tengah perkuliahan hp salah satu teman bunyi dan nada deringnya adalah lagu apa gitu lupa! dan Dosen Saya yang mengajar pada waktu itu (kalau orang awan menyebutnya dengan “orang panatik(agama)”) Beliau memang suka memberi cermah keanak didiknya diakhir-akhir (lima menit) jam kuliah. Sesudah hp salah satu teman berhenti bunyi, Beliau langsung mersepon dan kemudian bersabda 😀 😀 kurang lebih begini: “kalau orang yang suka mendengarkan/memperdengarkan musik kepada orang lain, pada hari kiamat kelak telinganya akan disiram dengan timah panas”! Yaa, mendengar pernyataan Beliau tidak membuat Saya kaget karena sedikit paham apa yang Beliau maksud, kalau dalam ajaran Islam ada batasan soal berseni, setelah Beliau selesai dalam (amanah) mengajarnya kemudian Beliaupun keluar ruangan. Dan setelahnya ada salah satu teman yang langsung 😀 😀 dengan nada yang cukup tinggi “apa maksudnya kalau mendengarkan musik gitu saja telinganya disiram timah panas??!” yaa.. mungkin wajar, kalau pertanyaan dari salah satu teman Saya tadi langsung terlontar, apalagi Mereka yang masih terlalu awam sama aqidah. Kalau dizaman sekarang ini musik sudah menjadi komoditi hiburan yang cukup murah meriah, apalagi untuk Mahasiswa yang suka stres karena keseringan dapat tugas kuliah. Yang pastinnya pikiran Mereka ingin lebih fresh dengan cara mendengarkan musik..

Yaa, mendengar pernyataan Beliau Saya langsung teringat seseorang yang mengatakan ada seorang ulama yang menyatakan kalau mendengarkan musik itu dapat mengeraskan hati. Jujur saja waktu itu Saya juga belum bisa lepas dengan yang namanya seni musik, sebagai orang yang masih suka mendengarkan musik Saya juga tahu apa sisi negatif dari mendengar musik terlebih jenis musik yang Saya suka dengar. Terlepas juga banyaknya penelitian yang menyatakan kalau mendengarkan musik itu dapat memberikan beberapa manfaat pada pendengarnya, dari meningkatkan mood, daya fokus, menghilangkan stres dsb. Tapi Islam memandang musik dari beberapa sisi yang mungkin dapat merugikan umat-Nya, dari dapat melalaikan, mengandung kemaksiatan, kemungkaran dsb.

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

“Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif).” (HR. Bukhari)

إني لم أنه عن البكاء ولكني نهيت عن صوتين أحمقين فاجرين : صوت عند نغمة لهو ولعب ومزامير الشيطان وصوت عند مصيبة لطم وجوه وشق جيوب ورنة شيطان

“Aku tidak melarang kalian menangis. Namun, yang aku larang adalah dua suara yang bodoh dan maksiat; suara di saat nyanyian hiburan/kesenangan, permainan dan lagu-lagu setan, serta suara ketika terjadi musibah, menampar wajah, merobek baju, dan jeritan setan.” (HR. Hakim & Baihaqi)

Baca penjelasan lebih lengkapnya klik disini

Ketertarikan Saya akan seni, membuat Saya ingin mengenal lebih dalam soal aqidah dan itu adalah hikmah yang alhamdulillah Saya dapat. Seni adalah nilai dari sebuah keindahan, dan tidak ada seni yang lebih indah dari ciptaan-Nya. 

Kalau ada kesalahan mohon koreksinya! Wallahu a’lam bish-shawabi..
Sumber:


http://al-atsariyyah.com/hadits-hadits-tentang-larangan-menggambar.html

http://abuzuhriy.com/tentang-gambar-lukisan-foto-video-dsb/

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/benarkah-musik-islami-itu-haram.html

https://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s